Miopi atau rabun jauh adalah kelainan refraksi yang bisa diderita semua usia, tak terkecuali anak-anak. Pada umumnya, miopi terdiagnosis pada anak-anak usia enam sampai 14 tahun.
Berdasarkan catatan healthychildren.org, rabun jauh memengaruhi lima persen anak-anak prasekolah, sekitar sembilan persen anak usia sekolah, dan 30 persen remaja.
Diperkirakan anak-anak yang rabun jauh jumlahnya akan meningkat pesat beberapa dekade mendatang. Saat ini saja, satu dari empat orang tua memiliki anak dengan beberapa derajat rabun jauh. Maka dari itu, perlu mewaspadai jika anak-anak menderita miopi.
Lantaran, anak-anak yang menderita miopi yang sudah bersekolah harus berjuang melihat tulisan pada papan tulis di kelas, daripada anak-anak dengan penglihatan normal. Akhirnya, anak-anak tidak dapat fokus dan belajar secara efektif.
Selain itu, risiko yang paling berbahaya adalah menderita miopi tinggi. Apa itu miopi tinggi? Seperti dilansir dari Cleveland Clinic, seorang anak dikatakan menderita miopi tinggi ketika ukuran minusnya di atas enam dioptri (-6).
Miopi tinggi merupakan jenis rabun jauh tingkat tinggi yang diturunkan secara langka. Hal tersebut terjadi ketika bola mata anak tumbuh lebih panjang dari yang seharusnya atau kornea terlalu curam.
Ketika minus mata anak sudah di atas enam, maka ia lebih rentan memiliki masalah penglihatan lebih serius di kemudian hari. Penyakit yang mungkin terjadi saat miopi anak tinggi di antaranya, katarak, glaukoma sampai ablasi retina (terlepasnya retina dari mata). Selain itu, berisiko menyebabkan kebutaan jika terjadi komplikasi miopia tinggi.
Miopi tinggi memang tidak dapat disembuhkan. Tapi, akan berhenti memburuk memburuk antara usia 20 dan 30. Selain itu, bisa dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak dan dalam beberapa kasus dilakukan operasi refraktif, tergantung pada tingkat keparahannya. (nhn)



Leave a reply