Mata berkedip merupakan refleks normal mata. Tujuannya, melindungi dar asap, cahaya terang, benda asing, jari atau kotoran lain yang masuk ke arahnya. Hanya saja, dalam beberapa kondisi terjadi kedipan mata berlebihan. Apakah hal tersebut normal?
Kedipan Mata Normal
Dalam kehidupan normal sehari, seseorang berkedip rata-rata 15 kali dalam satu menit untuk menjaga kesehatan mata. Itu dibarengi dengan lapisan air mata yang biasanya stabil hanya sekitar 10-20 detik.
Sedangkan, untuk anak-anak, khususnya bayi baru lahir durasi kedipan selama dua kali per menit. Sementara, balita kurang dari 15 kedipan per menit. Durasi kedipan mata dapat meningkat menjadi 14-17 kali pada masa remaja dan tetap pada tingkat ini selama sisa hidup.
Kedipan melebihi rata-rata normal, biasanya tidak menimbulkan gejala yang mengkhawatirkan. Sebab, jarang sekali, berkedip berlebihan tanda adanya masalah neurologis atau menyebabkan hilangnya penglihatan.
Kedipan Mata Berlebihan
Menurut American Academy of Ophthalmology, sebuah penelitian besar terhadap anak-anak di bawah 16 tahun menunjukkan empat penyebab umum dari kedipan berlebihan antara lain sebagai berikut.
Masalah dengan kornea di bagian depan mata
Ini termasuk mata kering, bulu mata tumbuh ke dalam, benda asing di mata atau di bawah kelopak mata, ablasi kornea (goresan atau goresan di depan mata), alergi mata , atau konjungtivitis (mata merah muda)
Tic (gerakan tubuh berulang yang tidak disengaja)
Berkedip adalah tic yang paling umum. Tic biasanya disebabkan oleh stres/kecemasan, kelelahan atau kebosanan. Dalam kebanyakan kasus, tics tidak berbahaya, dan anak-anak tumbuh lebih besar darinya.
Kelainan refraksi yang tidak dikoreksi
Kebutuhan akan kacamata atau resep kacamata yang diperbarui untuk memperbaiki rabun jauh (myopia), rabun dekat (hyperopia) atau astigmatisme (silinder)
Mata tidak sejajar atau juling (strabismus)
Strabismus adalah saat mata tidak sejajar dengan benar, menunjuk ke arah yang berbeda
Terkadang, tidak ada penyebab yang jelas untuk menjelaskan kedipan berlebihan. Orang tua perlu membawa anak ke dokter mata untuk mengevaluasi ulang jika kedipan terus berlanjut.
Diagnosis Kedipan Mata Berlebihan
Dokter mata akan melakukan sejumlah tes untuk mengetahui apakah kedipan mata yang berlebihan ini masalah serius atau tidak. Adapun pemeriksaan, yakni sebagai berikut.
- Bagian depan mata. Dokter menggunakan mikroskop khusus dengan cahaya terang (disebut slit lamp) untuk melihat apakah anak memiliki masalah yang memengaruhi kornea di bagian depan mata.
- Periksa kesejajaran mata. Mata juling (strabismus) terdengar mudah untuk didiagnosis, tapi beberapa mata anak tidak terlihat juling ketika dilihat orang tua atau juling sesekali (tidak setiap saat). Jika strabismus tidak terlihat jelas, dokter mata anak akan menggunakan tes berbeda untuk memeriksa pergerakan mata dan melihat seberapa baik keduanya bekerja sama.
- Periksa ketajaman penglihatan (ketajaman). Ini termasuk membaca grafik mata untuk mengetahui apakah anak membutuhkan kacamata.
Lakukan pemeriksaan ke profesional atau penyedia layanan kesehatan yang terpercaya. Jika mengalami masalah tentang kelainan refraksi, bisa berkunjung ke Kasoem Vision Care.
Dengan pengalaman lebih dari 80 tahun, Kasoem Vision Care menyediakan pemeriksaan detail yang fokus pada tajam penglihatan oleh Refractionist Optician. Tes berupa pemeriksaan lapang pandang, kontra sensitivitas, strabismus (mata juling), screening buta warna, dan pemeriksaan low vision serta lensa kontak Rigid Gas Permeable (RGP).
Tak hanya itu, tersedia berbagai kacamata dan lensa dari brand terpercaya serta lensa kontak untuk memenuhi kebutuhan penglihatan. Untuk informasi lain, hubungi Kasoem Vision Care dengan mengirimkan email ke [email protected] atau menghubungi melalui layanan chat Kasoem Care.


Leave a reply