Pernahkah Anda melihat posisi bola mata seseorang tidak sejajar atau bola matanya bergerak ke arah yang berbeda? Kondisi tersebut disebut dengan strabismus atau mata juling. Saat terjadi, satu atau kedua mata bergerak ke arah berbeda, seperti ke samping, ke atas atau bawah. Misalnya, satu mata melihat lurus ke depan. Sementara mata lainnya melihat ke samping.
Bagaimana mata bergerak menjadi strabismus?
Mata dapat bergerak ke berbagai arah, karena ada enam otot yang mengarahkannya. Enam otot yang menempel pada masing-masing bola mata itu, dapat menggerakan mata, seusai mendapat perintah dari otak.
Tiap otot memiliki tugas berbeda. Dari enam otot, dua di antaranya bertugas menggerakkan mata ke kanan dan menggerakkan mata ke kiri. Sedangkan, empat otot lain mengarahkan mata untuk bergerak ke atas, ke bawah, dan ke samping.
Agar mata dapat fokus pada satu gambar, keenam otot tersebut harus bekerja sama membuat kesejajaran okular (posisi mata) yang normal. Ketika salah satu atau enam otot mengalami masalah untuk mengontrol pergerakan mata, terjadilah pergerakan mata tak sesuai. Sehingga, mata tak sejajar dan berputar ke dalam, ke luar, ke atas atau ke bawah.
Berdasarkan arah mata yang berputar atau tak sejajar, mata juling dikategorikan, yaitu:
- memutar ke dalam (esotropia)
- memutar ke luar (exsotropia)
- memutar ke atas (hypertropia)
- memutar ke bawah (hypotropia)
Jenis-jenis Strabismus
Mata juling ini dapat diderita semua usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Adapun jenis-jenisnya, seperti dilansir dari Cleveland Clinic secara umum terbagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut.
Esotropia Akomodatif
Kondisi esotropia akomodatif membuat mata berputar ke arah dalam (ke arah hidung). Ini adalah jenis strabismus yang paling umum. Mereka yang mengalami esotropia akomodatif, kebanyakan menderita rabun dekat yang tidak dikoreksi dan memiliki kecenderungan genetik (riwayat keluarga).
Sistem pemfokusan terkait dengan sistem yang mengontrol arah mata. Orang yang rabun dekat harus berusaha memfokuskan objek yang dilihat, agar gambar tetap jelas. Hal tersebut dapat menyebabkan mata berputar ke dalam. Gejala esotropia akomodaif meliputi penglihatan ganda, menutup atau menutupi satu mata saat melihat sesuatu yang dekat, dan memiringkan atau memutar kepala.
Baca Juga : Penyebab Mata Juling atau Strabismus, dari Kesalahan Refraksi sampai Genetik
Exotropia Intermiten
Jenis strabismus ini menyebabkan satu mata akan terpaku (berkonsentrasi) pada target, sementara mata lainnya mengarah ke luar. Mata dengan kondisi ini terlihat (menjauh dari hidung) saat melihat sesuatu yang jauh.
Gejala termasuk penglihatan ganda, sakit kepala, kesulitan membaca, kelelahan mata, dan menutup satu mata saat melihat objek yang jauh atau saat berada dalam cahaya terang. Namun, seseorang yang mengalami eksotopia intermiten, mungkin tidak menujukkan gejala tersebut. Deviasi (perbedaan) okular dapat disadari oleh orang lain.
Selain dua jenis tersebut, strabismus lainnya disebut infantil esotropia. Kondisi ini ditandai dengan banyak memutar kedua mata ke dalam. Biasanya, terjadi sebelum usia bayi enam bulan. Pembalikan ke dalam mungkin dimulai secara tidak teratur, tetapi segera menjadi konstan. Hak tersebut terlihat ketika anak melihat objek jauh dan dekat.
Untuk memastikan apa itu strabismus atau bukan ketika melihat gejala tersebut, lakukan pemeriksaan di rumah sakit atau fasilitas pemeriksaan mata yang terpercaya. Misalnya di Kasoem Vision Care. Dengan pengalaman lebih dari 80 tahun, Kasoem Vision Care menyediakan layanan pemeriksaan mata yang lengkap dan detail untuk anak-anak, orang dewasa hingga orang tua lanjut usia (lansia).
Tes penglihatan yang tersedia berupa pemeriksaan lapang pandang, kontra sensitivitas, binokuler, strabismus (mata juling), pemeriksaan buta warna, dan screening low vision serta pemeriksaan lensa kontak Rigid Gas Permeable (RGP). Tak hanya itu, di sana tersedia kacamata untuk mengoreksi penglihatan.



Leave a reply